Khutbah Jumat: Mengobati Hati dari Penyakit Riya’

Posted on

Pengenalan

Khutbah Jumat adalah momen penting bagi umat Muslim untuk mendengarkan dan merenungkan pesan agama. Salah satu penyakit hati yang perlu diwaspadai adalah penyakit riya’. Riya’ adalah perbuatan menunjukkan amal ibadah kepada orang lain dengan tujuan mendapatkan pujian atau pengakuan dari mereka. Penyakit ini dapat merusak niat ikhlas seseorang dan mengurangi nilai ibadah yang seharusnya dilakukan hanya karena Allah SWT.

Apa itu Penyakit Riya’?

Penyakit riya’ adalah suatu sikap yang muncul ketika seseorang melakukan amal ibadah semata-mata untuk mendapatkan perhatian atau pujian dari orang lain. Riya’ bisa muncul dalam berbagai bentuk, seperti memperlihatkan ibadah secara berlebihan di hadapan orang lain, memamerkan kebaikan yang dilakukan, atau bahkan hanya sekedar menunjukkan kepada orang lain apa yang telah dilakukan. Penyakit ini bisa merusak keikhlasan dalam beribadah dan mengurangi pahala yang seharusnya didapatkan.

Akibat dari Penyakit Riya’

Penyakit riya’ memiliki akibat yang sangat merugikan bagi seseorang. Pertama, penyakit ini mengurangi nilai ibadah yang seharusnya dilakukan hanya karena Allah SWT. Kedua, riya’ juga dapat menyebabkan seseorang berbuat dosa, karena niatnya yang tidak ikhlas. Ketiga, penyakit ini juga dapat merusak hubungan seseorang dengan Allah SWT, karena ibadah yang seharusnya menjadi sarana mendekatkan diri kepada-Nya justru menjadi sarana mencari pujian dari manusia. Akibatnya, hati seseorang menjadi terpaut pada dunia dan keinginan untuk mendapatkan pengakuan dari orang lain.

Pos Terkait:  Masjid Tanpa Kubah di Indonesia

Cara Mengobati Hati dari Penyakit Riya’

Ada beberapa cara yang dapat dilakukan untuk mengobati hati dari penyakit riya’. Pertama, adalah dengan memperbaiki niat dalam beribadah. Ketika melakukan amal ibadah, niatkanlah semata-mata karena Allah SWT, bukan untuk mendapatkan pujian atau pengakuan dari orang lain. Perbaiki niat ikhlas ini secara konsisten dan berusaha untuk selalu mengingatkan diri sendiri tentang tujuan sejati dari ibadah.

Kedua, hindari memperlihatkan amal ibadah kepada orang lain. Perbuatan baik seharusnya hanya ditujukan kepada Allah SWT, bukan untuk dipamerkan kepada orang lain. Jika ada kebaikan yang perlu diketahui orang lain, lakukanlah dengan cara yang tidak menarik perhatian, seperti melalui media sosial atau bantuan sembunyi-sembunyi kepada yang membutuhkan.

Ketiga, perbanyak ibadah dengan melakukan amal sholeh secara sembunyi-sembunyi. Amal sholeh yang dilakukan tanpa diketahui oleh orang lain memiliki nilai yang lebih tinggi, karena dilakukan dengan niat yang murni hanya karena Allah SWT. Lakukanlah amal ibadah ini tanpa mengharapkan pujian atau pengakuan dari siapapun, sehingga hati menjadi lebih ikhlas dan terjaga dari penyakit riya’.

Akhir Kata

Penyakit riya’ adalah penyakit hati yang perlu diwaspadai oleh setiap Muslim. Mengobati hati dari penyakit ini membutuhkan kesadaran dan upaya yang konsisten. Dengan memperbaiki niat dalam beribadah, menghindari memperlihatkan amal ibadah kepada orang lain, dan melakukan amal sholeh secara sembunyi-sembunyi, kita dapat membersihkan hati dan mendapatkan ibadah yang lebih bernilai di hadapan Allah SWT. Semoga kita senantiasa terjaga dari penyakit riya’ dan mendapatkan keikhlasan dalam setiap amal ibadah yang kita lakukan. Aamiin.