Saat Salafi Memelintir Perkataan Imam Syafi’i

Posted on

Pendahuluan

Imam Syafi’i, seorang ulama besar dalam sejarah Islam, dikenal dengan pemikirannya yang mendalam dan kontribusinya dalam pengembangan ilmu fiqh. Namun, tidak jarang perkataan dan pemikirannya disalahartikan oleh beberapa kelompok, termasuk para Salafi.

Pemahaman yang Tidak Akurat

Salah satu contoh pemahaman yang tidak akurat adalah ketika beberapa kelompok Salafi memelintir perkataan Imam Syafi’i mengenai perkara fiqh. Mereka cenderung mengambil perkataan Imam Syafi’i secara selektif dan tidak memperhatikan konteks sebenarnya.

Imam Syafi’i pernah berkata, “Jika perkataanku sesuai dengan Al-Qur’an, maka terimalah; namun jika tidak sesuai, maka tinggalkanlah perkataanku.” Pernyataan ini seringkali digunakan oleh beberapa kelompok Salafi untuk menolak pendapat-pendapat ulama lain yang tidak sejalan dengan pandangan mereka.

Kesalahan dalam Memahami Konteks

Para Salafi seringkali tidak memperhatikan konteks dan situasi ketika Imam Syafi’i mengeluarkan pendapatnya. Mereka hanya melihat satu kalimat tanpa memahami latar belakang dan alasan di balik perkataan tersebut.

Sebagai contoh, Imam Syafi’i pernah berkata, “Aku lebih suka mengikuti pendapat Imam Ahmad daripada diriku sendiri.” Pernyataan ini seringkali disalahartikan oleh beberapa kelompok Salafi sebagai bentuk pengagungan terhadap Imam Ahmad bin Hanbal.

Pos Terkait:  Ahmad Hassan: Tokoh Persis yang Menyejarah

Konteks Sebenarnya

Sebenarnya, perkataan Imam Syafi’i tersebut bukanlah untuk mengagungkan Imam Ahmad secara mutlak. Konteks sebenarnya adalah saat Imam Syafi’i merasa ragu dalam mengambil keputusan dan ia lebih memilih mengikuti pendapat Imam Ahmad yang menurutnya lebih kuat dan lebih sesuai dengan Al-Qur’an dan Sunnah.

Imam Syafi’i juga pernah berkata, “Jika aku melihat pendapat Imam Malik benar, maka itulah madzhabku.” Pernyataan ini menunjukkan bahwa Imam Syafi’i tidak terikat pada satu madzhab tertentu, melainkan terbuka untuk mengikuti pendapat yang menurutnya lebih benar dan sesuai dengan dalil-dalil syar’i.

Pemahaman yang Tidak Proporsional

Salah satu kesalahan yang sering dilakukan oleh beberapa kelompok Salafi adalah memposisikan Imam Syafi’i sebagai pemimpin mereka secara mutlak. Mereka sering kali mengutip perkataan Imam Syafi’i sebagai otoritas tertinggi, bahkan melebihi nabi dan rasul.

Padahal, Imam Syafi’i sendiri tidak pernah mengklaim dirinya sebagai pemimpin umat atau otoritas tertinggi. Ia hanyalah seorang ulama yang berusaha menggali hukum-hukum Islam dengan sebaik-baiknya, tanpa bermaksud untuk dimuliakan atau dijadikan sebagai tujuan akhir dalam beragama.

Kesimpulan

Dalam pemahaman dan penafsiran terhadap perkataan Imam Syafi’i, kita perlu memperhatikan konteks dan situasi di mana perkataan tersebut diucapkan. Tidak boleh ada pemilihan selektif dan pemutarbalikan makna yang dilakukan hanya untuk membenarkan pandangan pribadi atau kelompok tertentu.

Pos Terkait:  Jika Tidak Mampu Bersedekah Bagaimana?

Imam Syafi’i adalah seorang ulama yang sangat dihormati dalam tradisi Sunni, namun kita harus berhati-hati agar tidak salah memahami dan memelintir perkataan beliau. Kita perlu menghormati pemikiran dan pendapat Imam Syafi’i, namun juga perlu menghargai keberagaman pendapat dalam Islam yang merupakan kekayaan umat.