Menu

Mode Gelap

Islam Edu

Qodha’ dan Qodar dalam Kehidupan Sehari-Hari


 Qodha' dan Qodar dalam Kehidupan Sehari-Hari Perbesar

Qodha' dan Qodar dalam Kehidupan Sehari-Hari

Advertisements

Iqipedia – Secara umum pemahaman umat Islam terhadap makna Qodha dan Qodar tampaknya masih salah kaprah dalam pelaksanaannya. Ada sebagian orang yang berpandangan bahwa Qodha dan Qodar merupakan ketetapan Allah atas makhluk-Nya sebelum diciptakan, atau dalam tafsir Al-Baidhawi disebut fatalisme yang memandang bahwa Allah telah menentukan segala sesuatu bagi setiap manusia atas segala perbuatannya, namun sebagian orang juga memiliki pandangan yang berbeda. Yaitu, pandangan bahwa Qodha dan Qodar adalah ketetapan Allah di mana semua makhluk telah ditentukan takdirnya oleh Allah, dan mereka tidak dapat melampaui batas ketetapan tersebut dan Allah membimbing dan menunjukkan kepada mereka arah yang harus mereka tuju.

Tidak ada yang salah dengan kedua pandangan tersebut jika ditelaah secara mendalam, namun yang menjadi permasalahan adalah pemaknaan Qadha dan Qodar itu sendiri serta implementasinya dalam kehidupan yang seolah-olah bertentangan dengan kehendak Allah dan kehendak manusia, sehingga sering terjadi kesalahpahaman dalam mengamalkan rukun yang satu ini. Keyakinan di antara kita sering menganggap bahwa segala sesuatu yang terjadi pada kita dan semua tindakan kita adalah kehendak Tuhan, jadi kita pasrah saja pada takdir itu tanpa berpikir dan berusaha. Anggapan ini adalah salah satu kesalahan kita dalam memimpin Qodha dan Qodar. Sehingga kita harus memahami dan mendalami makna Qodha dan Qodar terlebih dahulu, kemudian menjadi landasan untuk mengamalkan dan mengimplementasikannya dalam berbagai bentuk kehidupan kita.

Pengertian Qodha Dan Qodar

Qodha dan Qodar merupakan salah satu rukun iman yang wajib diyakini sepenuhnya oleh seluruh umat Islam sebagaimana diriwayatkan dalam hadits Umar bin Al-Khattab. Bahwa Rasulullah ditanya oleh seorang laki-laki yaitu malaikat yang menyerupai manusia. “Wahai Muhammad apakah iman itu?” Dia menjawab: “Kamu memberikan kepada Allah, Malaikat-Nya, Rasul-Nya, Kitab-Kitab-Nya, Hari Akhir, qadar, baik dan buruk.” Dia berkata: “Kamu benar. Maka kami kaget, dia bertanya dia pun membenarkannya” (HR. Ibnu Majah dan HR. At-Tirmizi).

Merujuk pada hadits, jelas bahwa beriman penuh kepada Qodha dan Qodar merupakan salah satu syarat keimanan seorang muslim. Oleh karena itu, para ulama salaf merumuskan enam rukun iman dimana iman kepada Qodha dan Qodar merupakan rukun keenam yang pengaruhnya sangat penting bagi kehidupan umat Islam. Perbedaan antara Qodha dan Qodar terletak pada ketetapan Tuhan di Zaman Abadi dengan Qodha sebagai penentuan akan jadi apa seseorang, sedangkan Qodar sebagai perwujudan Tuhan terhadap Qodha pada orang tersebut sesuai dengan kehendak-Nya. Intinya, tidak ada yang terjadi pada makhluk sebagai kebetulan. Karena semua itu sudah menjadi Qodha dan Qodarnya.

Advertisements

Tidak ada bencana yang menimpa bumi dan tidak ada yang menimpa dirimu sendiri kecuali telah tertulis dalam Kitab (Lauhul Mahfuzh) sebelum Allah menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu mudah bagi Allah. Qs. Al-hadid (57): 22. Meskipun pada hakikatnya al-qada dan al-qadar manusia ditentukan oleh Allah SWT, namun manusialah yang menentukan nasibnya sendiri. Allah memberikan kesempatan kepada hamba-Nya untuk berusaha agar dapat mendorong seorang hamba untuk memaksimalkan potensi yang telah Allah berikan kepadanya. Kemudian manusia diperintahkan untuk beribadah dan berjihad dengan memberikan hidayah melalui ajaran, dan bersandar kepada segala sesuatu yang Allah swt. sebagaimana ditegaskan dalam ayat berikut: Dan siapa yang menetapkan qadar (masing-masing) dan memberi petunjuk. Qs. Al ‘Alâ (87): 3 Apapun perbedaan arti kata al-qadha dan al-qadar, pada dasarnya memiliki arti yang sama, yaitu ketetapan atau ketetapan Allah SWT bagi makhluk-Nya, dan hal ini disebabkan oleh sesuatu yang penting untuk diperdebatkan, perbedaannya hanya dalam memahami batasannya. Hal terpenting yang perlu dipahami dan digali adalah implementasi makna mengimani al-qada dan al-qadar dalam menjalankan roda kehidupan kita di dunia sebagai umat Islam.

Qadha dan Qodar sebagai takdir dari Allah SWT

Pandangan tentang takdir secara umum terbagi menjadi dua, dimana satu sisi memandang takdir sebagai penentuan tindakan manusia yang telah ditentukan sejak zaman dahulu, atau sebelum ia dilahirkan ke dunia. Sementara di sisi lain, manusia memiliki kebebasan untuk menentukan kehendak dan tindakan yang ingin dilakukannya, meskipun tetap ada batasan sesuai dengan kodratnya sebagai manusia.

Jika dilihat dari segi etimologis, ada tiga pengertian takdir, yaitu:

  1. Takdir adalah segala sesuatu yang pasti terjadi dan telah diketahui serta ditentukan sejak awal
  2. Sesuatu yang telah ditentukan dan kepastian itu lahir dari penciptaannya dimana keberadaannya sesuai dengan apa yang telah diketahui sebelumnya.
  3. Takdir berarti menerbitkan, mengatur, dan menentukan sesuatu menurut batas-batasnya di mana sesuatu itu akan sampai padanya.

Dari penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa yang dimaksud dengan takdir adalah Iradah Allah yang mewujudkan sesuatu dalam bentuk tertentu, kemudian menjadikan perwujudan itu sebagai amalan sesuai dengan maksud, tujuan, dan hikmahnya, atau dengan kata lain menentukan amalan tersebut. sesuai dengan tingkat kemampuan makhluk untuk Miliknya.

Advertisements
Penetapan Takdir makhluk sejak Zaman Azali

Takdir sebagai ketetapan Allah atas segala sesuatu “yang ada” pada makhluk-Nya, seperti sifat, perbuatan, baik dan buruk, dan sebagainya sesuai dengan kehendak Allah, telah diciptakan jauh sebelum takdir ditulis dalam Lauhul Mahfuz, yang dalam salah satu hadits disamakan dengan kalimat “dalam lima puluh ribu tahun” (Al-Jauziyah, 2000, hal 1). Hadits yang dimaksud adalah hadits yang diriwayatkan dari Abdullah bin Amr bin Ash, dia berkata: Saya pernah mendengar tentang Rasulullah. Bersabda: “Allah telah menentukan nasib makhluk ini sebelum Dia menciptakan langit dan bumi dalam jarak lima puluh ribu tahun dan Arsy-Nya ada di atas air.” (HR. Muslim, HR. Tirmizi, dan HR. Ahmad). Makna perumpamaan periode waktu yang terkandung dalam hadits mengacu pada apa yang terjadi dari semua itu (takdir) menurut ilmu Allah yang lebih awal dari apa yang tertulis dalam Lauhul Mahfuz.

 Dalam kitab Tuhfat al-Ahwadi bi Syarh Jami’ al-Tirmidzi (Sulidar, Ardiansyah, and Prabowo, 2017, hlm. 7) dijelaskan bahwa, sebagian ulama berpendapat bahwa hadis ini berkaitan dengan perintah Allah kepada qalam untuk menulis di Lauhul mahfuz apa saja yang ada pada hamba-hamba-Nya, yang ke semuanya itu tidak lepas dari keridhaan-Nya sebagai ketetapan yang tidak akan berubah sampai hari kiamat. Apa pun yang tertulis dalam qalam adalah takdir, sebagaimana terungkap dalam hadits yang diriwayatkan dari Ibn Wahab (Al-Jauziyah, 2000, hlm. 2): Umar bin Muhammad pernah mengatakan kepada saya bahwa Sulaiman bin Mahram telah memberitahunya, dia meriwayatkan: Ubadah bin Syamit bersabda: Panggil anakku agar aku dapat menceritakan kepadanya apa yang aku dengar dari Rasulullah, dia berkata: “Sesungguhnya, hal pertama yang Allah ciptakan dari makhluk-Nya adalah qalam.” Kemudian Dia berkata: Tulislah. Kemudian qalam bertanya: Ya Tuhanku, apa yang harus aku tulis? Dia menjawab: Takdir’. Rasulullah saw. bersabda: Barang siapa yang tidak beriman kepada qadar, baik yang baik maupun yang buruk, maka Allah akan membakarnya dengan api neraka’ (HR. Abu Dawud). Hadits ini menunjukkan bahwa pencatatan takdir telah selesai sejak lama sesuai dengan qadamulah. Artinya, menurut Al-Asqalani (1378 H., p. 207), bahwa takdir telah ditentukan oleh Allah sesuai dengan ketentuan-Nya jauh sebelum langit dan bumi diciptakan (zaman azali), dan karena apa yang Dia tahu itu pasti akan terjadi.

Qodha dan Qodar dalam kehidupan sehari-hari
  • Kematian

Allah SWT telah menciptakan manusia di dunia ini yang usianya telah ditentukan, ada yang panjang umur dan ada yang tidak. Bahkan bayi yang baru lahir telah meninggal. Kematian manusia yang kita lihat adalah qada dan qadar dari Allah SWT. 

  • Jodoh

Allah SWT menciptakan manusia bergandengan tangan dengan rezekinya. Ada orang yang ditakdirkan untuk kaya, cukup dan miskin. Semua manusia ingin hidup kaya, bahagia, dan bahagia. Dalam realita kehidupan sehari-hari, mencari rezeki itu mudah dan ada pula yang sulit. Realitas rezeki manusia berbeda-beda, ini bukti qada dan qadar dari Allah SWT.

Advertisements
  • Kelahiran

Setiap ibu hamil pasti menginginkan bayinya dilahirkan perempuan, namun nyatanya Allah SWT menganugerahkan seorang laki-laki, yaitu qada dan qadar dari Allah SWT. Dalam kehidupan sehari-hari, qadar disebut takdir. Takdir terbagi menjadi dua, yaitu takdir mubram dan takdir muallaq. Takdir mubram adalah takdir yang tidak bisa diubah dengan usaha dan doa. Misalnya, keturunan, Anda dilahirkan oleh ibu Anda dan tidak dapat diubah untuk meminta ibu lain untuk dilahirkan.

Sedangkan takdir muallaq adalah takdir yang bisa diubah dengan usaha dan doa. Misalnya, jika seseorang sakit ketika ia berusaha untuk berobat dan berdoa, ia akan sembuh dari penyakitnya. Sebagaimana firman Allah SWT dalam surah Al-Furqan ayat 2 yang berbunyi:

ٱلَّذِى لَهُۥ مُلْكُ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلْأَرْضِ وَلَمْ يَتَّخِذْ وَلَدًا وَلَمْ يَكُن لَّهُۥ شَرِيكٌ فِى ٱلْمُلْكِ وَخَلَقَ كُلَّ شَىْءٍ فَقَدَّرَهُۥ تَقْدِيرًا

 Artinya: “Kepunyaan-Nya kerajaan langit dan bumi, dan Dia tidak memiliki anak, dan tidak ada sekutu bagi-Nya dalam kekuasaan-Nya, dan Dia menciptakan segala sesuatu, dan Dia menentukan ukurannya dengan serapi mungkin.” (Surat al-Furqan: 2).

Advertisements

Contoh cara membuktikan keimanan terhadap Qada dan Qadar dalam kehidupan sehari-hari adalah:

  1. Selalu yakin bahwa segala sesuatu yang terjadi sesuai dengan qada dan qadar Allah.
  2. Selalu berusaha keras dan berdoa kepada Allah dalam segala hal yang Anda lakukan.
  3. Bersabarlah ketika Anda tidak mendapatkan sesuatu yang Anda inginkan.
  4. Selalu berusaha untuk ikhlas ketika kehilangan sesuatu.

Baca juga: Mu’tazilah dan Qadariyah

Menyerah Dan Putus Asa Dalam Menjalani Kehidupan 

Banyak dari kita yang beranggapan bahwa jika al-qadha dan al-qadar telah ditentukan sebelum penciptaan makhluk, maka tidak perlu ada usaha dan perbuatan, karena tidak akan berguna dan bermanfaat bagi makhluk itu sendiri. Pandangan seperti ini tidak pada tempatnya sebagai bentuk implementasi keimanan kita terhadap al-qadha dan al-qadar. Iman kepada al-qadha dan al-qadar pada hakikatnya mengandung ketenteraman hati dan pikiran serta hilangnya rasa cemas akibat kegagalan, hilangnya rasa khawatir menghadapi masa depan. Hal ini dijelaskan dalam firman Allah SWT. Tidak ada bencana yang menimpa bumi dan (tidak) menimpa dirimu sendiri kecuali telah tertulis dalam Kitab (Lauhul Mahfuzh) sebelum Allah menciptakannya.

Padahal takdir setiap makhluk di alam semesta ini sudah ditentukan oleh Allah SWT. sinkron menurut iradah-Nya sebelum diciptakan, bukan berarti setiap manusia menjadi salah satu makhluk yang diciptakan-Nya relatif hanya mengandalkan takdir itu, karena tidak ada satu pun yang didasarkan pada makhluk tersebut, termasuk kita, yang mengetahui takdir apa yang telah ditetapkan. untuk dia. Oleh karena itu, mereka hanya pasrah pada nasib atau menggunakan istilah lain “putus asa” atau “putus asa”. Perilaku ini tidak disukai oleh Allah SWT. Itulah sebabnya, Allah telah memberikan jalan dan petunjuk yang bisa kita ambil untuk menjalani hidup ini.

Advertisements

Allah SWT sendiri telah membangun fitrah setiap manusia untuk berusaha dan bekerja keras untuk mencapainya. Karena apa yang telah ditentukan dalam kehidupan dunia mereka, bahkan menurut Al-Jauziyah (2000, hlm. 60) telah diciptakan oleh Allah SWT untuk semua hewan. Dengan cara ini manfaat akhirat mereka akan tercapai. Sesungguhnya Allah SWT adalah Tuhan dunia dan akhirat, dan Dia Maha Bijaksana dalam apa yang Dia tetapkan dalam kehidupan dunia dan akhirat, dan setiap makhluk-Nya diberi kemudahan untuk mencapai apa yang telah Dia tetapkan.

Keimanan terhadap Qadha’ dan Qadar, membuat manusia semakin mampu membuat dirinya optimis dengan apa yang telah diberikan Allah SWT. Segala sesuatu yang telah terjadi di alam semesta ini akan memperkuat iman mereka kepada Allah. Takdir Muallaq (bisa diubah dengan Usaha) dan Takdir Mubram (mutlak). Karakter manusia dengan memahami dan meyakini qada dan qadar Allah, akan memunculkan perilaku yang baik dalam kehidupan sehari-harinya dan tentunya akan mendapatkan hikmah dari apa yang didapatnya. Pemahaman yang komprehensif tentang keyakinan yang benar terhadap qada dan qadar Allah bagi siswa berdampak sangat positif, yaitu munculnya perbuatan baik (perilaku positif) dalam kehidupan sehari-hari yang juga bisa disebut karakter al-Akhlak al-Karimah atau Mahmudah. 

Baca juga: Pendidikan Parenting Sebelum Nikah, Pengertian dan Peran Orang Tua

Kesimpulan

Dari penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa Iman kepada Qodha dan Qodar merupakan salah satu keyakinan dasar seorang muslim, dengan meyakini sepenuhnya takdir yang telah ditetapkan Allah untuknya dan memahami dengan benar manfaat dari takdir itu sendiri, kehidupannya. tidak akan sia-sia. Karena dia akan serius dalam berusaha dan beramal.

Advertisements

Selain itu, Nabi SAW telah mengisyaratkan kepada kita untuk tidak menyerah begitu saja pada takdir, karena manusia sendiri memiliki peperangan yang penting dan dimudahkan dalam setiap amalannya. Kita juga harus selalu berusaha mencari yang terbaik dan selalu berusaha yang terbaik dalam beribadah dan beramal demi tercapainya tujuan hidup, baik untuk kebahagiaan dunia maupun akhirat. Manusia akan terhina jika terjerumus ke dalam amalan yang tidak disukai oleh Allah SWT.

Contoh Qadha dan Qodar dalam kehidupan sehari-hari adalah takdir kematian, rezeki, jodoh dan kelahiran. Semua itu hanya tahu Allah SWT. Semuanya sudah diatur oleh-Nya. Jadi kita sebagai makhluk-Nya hanya bisa berusaha dan berusaha. Dalam menjalani hidup ini kita harus selalu berdoa, berusaha dan terus bersabar atas takdir yang telah Tuhan berikan.

Penulis: Nita Aminatul Solikah

Referensi:

Advertisements

Abdullah, Mulyana, 2020, Implementasi Iman Kepada Al-Qodha dan Al-Qodar Dalam Kehidupan Umat Muslim, Taklim : Jurnal Pendidikan Agama Islam, Vol.18 (1), hlm 1-11.

Harsa, T. 2008, Takdir Manusia Dalam Pandangan Hamka : Kajian Pemikiran Tafsir Al-Azhar. Banda Aceh : Yayasan Pena. 

Jami’ an, A. 1996, Memahami Takdir, Gresik : CV Bintang Pelajar. 

Putra, J Nabiel Aha, Moch Ali Mutawakkil, 2020, Qada’ Dan Qodar Perspektif Al-Qur’an Hadist dan Implikasinya Terhadap Pendidikan Agama Islam, J-PAI : Jurnal Pendidikan Agama Islam, Vol. 7 (1). 

Advertisements

Sulidar, Ardiansyah, dan Prabowo, Y. 2017, Wawasan Tentang Takdir dalam Hadist, At-Tahdis. Vol. 1 (2). Hlm. 1-16.

Komentar
Advertisements

Artikel ini telah dibaca 160 kali

Baca Lainnya

Syukur : Pengertian, Macam-Macam, Hakikat dan Dalil Syukur

16 November 2022 - 22:55

Syukur : Pengertian, Macam-Macam, Hakikat dan Dalil Syukur

Sabar dan Syukur

14 November 2022 - 19:00

Sabar dan Syukur

Penaklukan Banten dan Masuknya Agama Islam Disana

2 November 2022 - 08:17

Penaklukan Banten dan Masuknya Agama Islam Disana

Pengertian dan Faktor Pemicu Radikalisme

26 Oktober 2022 - 08:28

Pengertian dan Faktor Pemicu Radikalisme

Para Sahabat Penulis Wahyu

24 Oktober 2022 - 18:29

Para Sahabat Penulis Wahyu

Tradisi Bulan Suro Bagi Umat Islam di Jawa

14 Agustus 2022 - 07:00

Tradisi Bulan Muharrom
Trending di Islam Edu